Sebuah insiden road rage terjadi di Cilincing, Jakarta Utara, melibatkan seorang pengemudi Alphard dan seorang pemotor. Perselisihan bermula dari dua kali bunyi klakson motor saat mobil Alphard mundur. Alih-alih menyelesaikan masalah dengan damai, pengemudi Alphard justru bertindak agresif.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Ade Ary Syam Indradi, menjelaskan kronologi kejadian. “Saat melintas di TKP, pelaku yang mengemudikan Toyota Alphard berwarna hitam dengan nomor polisi B 99 NEO memundurkan kendaraannya karena posisi sepeda motor tepat di belakang mobil pelaku,” ujarnya seperti dikutip Antara. Pemotor yang membonceng ibunya mencoba menjelaskan, namun pengemudi Alphard malah membanting pemotor ke jalan.
Akibatnya, kepala pemotor membentur aspal, menyebabkan pusing dan memar di lengan kiri. Lebih lanjut, pengemudi Alphard juga mengambil ponsel milik ibu yang dibonceng karena merasa tindakannya direkam. Kasus ini kini ditangani Polsek Cilincing Polres Metro Jakarta Utara. Kejadian ini menyoroti permasalahan road rage yang semakin sering terjadi di jalan raya.
Road Rage: Penyebab dan Pencegahan
Insiden ini menjadi contoh nyata road rage, perilaku agresif di jalan raya yang sering dipicu oleh hal-hal sepele. Mengapa hal ini terjadi? Instruktur dan Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, mengungkapkan beberapa faktor penyebab.
Pertama, lemahnya kesadaran akan aturan lalu lintas dan tata tertib di jalan raya. Kedua, minimnya empati antar pengendara. Ketiga, penegakan hukum yang kurang tegas setelah kejadian. Ketiga faktor ini saling terkait dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan road rage terjadi.
Selain itu, ada pemicu spesifik yang seringkali memicu perilaku agresif ini. Jusri menjabarkan lima pemicu utama road rage:
- Persepsi kekuasaan (Pejabat/Ormas/Instansi Hukum/TNI/Polri)
- Mengendarai kendaraan dalam rombongan (Motor/Fans Club/Jenazah/Komunitas/Pemerintah)
- Membawa senjata
- Kendaraan dengan dimensi lebih besar
- Kendaraan yang lebih mahal dan mewah
Faktor-faktor ini dapat meningkatkan rasa percaya diri dan superioritas pengemudi, membuat mereka merasa berhak dan tidak memperdulikan keselamatan pengendara lain. Kondisi ini berbahaya dan dapat berujung pada tindakan kekerasan seperti yang terjadi di Cilincing.
Menangani Pengendara Agresif
Apa yang harus dilakukan jika menghadapi pengendara agresif seperti dalam kasus ini? Jusri menyarankan agar kita menghindari konfrontasi. Mencoba untuk beradu argumen atau membalas tindakan agresif hanya akan memperburuk situasi dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Prioritaskan keselamatan diri dan orang lain. “Mengalah kepada pengguna jalan yang agresif. Jika terjadi insiden, kedua belah pihak yang terlibat akan rugi,” kata Jusri. Lebih baik mengalah dan melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib, daripada terlibat dalam perkelahian yang dapat berakibat fatal.
Kasus di Cilincing ini menjadi pengingat penting akan pentingnya kesadaran dan kepatuhan terhadap peraturan lalu lintas. Selain itu, empati dan kesabaran dalam berkendara juga sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan berkendara yang aman dan tertib. Penegakan hukum yang tegas juga sangat penting untuk memberikan efek jera bagi pelaku road rage dan mencegah kejadian serupa terulang.
Semoga kasus ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk selalu mengedepankan keselamatan dan saling menghormati di jalan raya. Ingatlah bahwa tindakan agresif hanya akan merugikan diri sendiri dan orang lain.